Sabtu, 05 November 2016

LARUTAN BUFFER



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

           Latar belakang Larutan penyangga sangat penting dalam kehidupan; misalnya dalam analisis kimia, biokimia, bakteriologi, zat warna, fotografi, dan industri kulit. Dalam bidang biokimia, kultur jaringan dan bakteri mengalami proses yang sangat sensitif terhadap perubahan pH. Darah dalam tubuh manusia mempunyai kisaran pH 7,35 sampai 7,45, dan apabila pH darah manusia di atas 7,8 akan menyebabkan organ tubuh manusia dapat rusak, sehingga harus dijaga kisaran pHnya dengan larutan penyangga. Untuk menjaga pH larutan agar tidak mengalami perubaha yang mencolok, digunakan zat-zat yang bersifat penyangga. Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang dapat mempertahankan pH pada kisarannya. Jika pada suatu larutan penyangga ditambah sedikit asam atau ditambahkan sedikit basa atau diencerkan, maka pH larutan tidak berubah. Oleh karenanya, pada percobaan ini akan digunakan larutan penyangga dari asam lemah (CH3COOH) dengan garamya/basa konjugasi(CH3COONa) dan digunakan basa lemah(NH3) dengan garamnya/asam konjugasi(NH4Cl) untuk menunjukkan sifat-sifat larutan penyangga


1.2 Tujuan percobaan

1.Menjelaskan pentingnya larutan buffer.
2. Membuat larutan buffer.
3. Membedakan larutan buffer dengan larutan bukan buffer.
4. Mengetahui system kerja buffer dalam mempertahankan pH.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Buffer fosfat adalah buffer netral dengan kisaran pH 7. Buffer fosfat dapat dibuat dengan menggunakan monosodium fosfat (NaH2PO4) dan basa konjugatnya yaitu disodium fosfat (Na2HPO4). Meskipun buffer fosfat juga merupakan larutan penyangga, namun kerja buffer ini tidak lebih baik dari cairan rumen dalam mempertahankan pH. Hal ini dikarenakan adanya proses saliviasi di dalam rumen. Saliva yang dihasilkan kelenjar ludah berperan sebagi buffer alami bagi rumen sehingga kemampuan mempertahankan pH rumen lebih bagus (Daintith, 2005).
Kondisi dalam rumen adalah anaerobik dan mikroorganisme yang paling sesuai dan dapat hidup dapat ditemukan didalamnya. Tekanan osmos pada rumen mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 38–42oC, pH dipertahankan dengan adanya absorbsi asam lemak dan amonia. Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar ion HCO3 dan PO4 (Arora, 1995).
 Di dalam cairan rumen juga terdapat saliva. Saliva yang masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair, membuffer asam-asam, hasil fermentasi mikroba rumen. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu didalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung elektrolit-elektrolit tertentu seperti Na, K, Ca, Mg, P, dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba. (Hvelplund,1991).







BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan bahan
Ø  NaOH
Ø  HCH3COO
Ø  HCL
Ø  NaCH3COO
Ø  NH4CL
Ø  Tabung Reaksi
Ø  Rak Tabung Reaksi
Ø  Gelas Piala
Ø  Pipet Ukur
Ø  Gelas Ukur
Ø  Botol Semprot
Ø  Corong Kaca

3.2 Prosedur Kerja
    1. larutan bukan buffer
        a. Penentuan Ph Larutan Bukan Buffer
Sediakan Tiga Buah Tabung Reaksi Yang Bersih Isilah Tiga Buah Tabung Reaksi Tersebut Dengan :
Tabung Pertama + 1 Ml Larutan Hcl 0,0001 M
Tabung ke dua + 1 ml air
Tabung ke tiga + 1 ml larutan NaOH 0,001 M
Tentukan dan catat ph larutan dngan indicator universal.
         b. penentuan ph larutan bukan buffer setelah di tambah asam
Ambil tiga buah larutan di atas yang sudah d isi masing-masing dan juga telah di ketahui ph nya . ke dalam masing masing tabung reaksi tersebut di tambah kan satu tetes HCL M, tentukan larutan indicator universal.


    2.larutan buffer
a. Penentuan Ph Larutan  Buffer
1)      Sediakan dua buah gelas piala atau erlimyer masing masing gelas di isi dengan 25 ml almoniomhidroksida (HCH3COO ) 1M dan 25 ml natrium asetat (HCH3COO ) 1M gelas di goyang goyang supaya larutan homogennya bercampur dan tentukan ph larutan tersebut dengan indicator universal, catat.
2)      Sediakan dua buah gelas piala atau erlimyer masing masing gelas di isi dengan 25 ml almoniomhidroksida (NH4OH ) 1M dan 25 ml natrium asetat NH4CL 1M gelas di goyang goyang supaya larutan homogennya bercampur dan tentukan ph larutan tersebut dengan indicator universal .
              b. Penentuan larutan setelah penambahan asam/basah
                     sediakan larutan 1.a kedalam larutan tersebut di tambahkan :
1)      untuk tabung pertama di tambah 5ml hcl 0,1 m catat ph larutannya.
2)      untuk tabung ke dua tambahkn 5ml naoh 0,1 m catat ph larutannya.
                     sediakan larutan 1.b kedalam larutan tersebut di tambahkan :
1)      untuk tabung pertama di tambah 5ml hcl 0,1 m catat ph larutannya.
2)      untuk tabung ke dua tambahkn 5ml naoh 0,1 m catat ph larutannya.









BAB IV
HASIL PENGAMATAN
No
Larutan
pH (Keasaman)
Awal
Setelah ditambah
1 ml HCl0,1 M
Setelah ditambah
1 ml NaOH 0,1 M
1
HCl 0,0001 M
3
1
-
2
Air
7
1
-
3
NaOH 0,0001 M
10
1
-

No
Larutan
pH (Keasaman)
awal
Setelah ditambah
5 ml HCl0,1 M
Setelah ditambah
5 ml NaOH 0,1 M
1
25 ml  HCH3COO 1 M +
25 ml NaCH3COO 1 M
5
5
5
2
25 ml NH4OH 1 M +
25 ml NH4Cl 1 M
5
1
6














BAB V
PEMBAHASAN
Larutan penyangga atau larutan buffer atau larutan dapar merupakan suatu larutan yang dapat menahan perubahan pH yang besar ketika ion – ion hidrogen atau hidroksida ditambahkan, atau ketika larutan itu diencerkan. Oleh karena mengandung komponen asam dan basa tersebut, larutan buffer dapat bereaksi dengan asam (ion H+) maupun dengan basa (ion OH-) apa saja yang memasuki larutan. Oleh karena itu, penambahan sedikit asam ataupun sedikit basa ke dalam larutan buffer tidak mengubah pH-nya. Larutan penyangga dapat dibedakan atas larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa. Apabila asam lemah dicampur dengan basa konjugasinya maka akan terbentuk larutan buffer asam, dimana larutannya mempertahankan pH pada daerah asam (pH 7). Perlakuan pertama yaitu mencampurkan cairan rumen yang bersifat sebagai buffer dengan NaOH 0,05N merupakan salah satu contoh sistem dalam mempertahankan pH-nya.
Setiap buffer memiliki kapasitas untuk mempertahankan pHnya, kapasitas suatu penyangga merupakan ukuran keefektifannya dalam perubahan pH pada penambahan asam atau basa. Semakin besar konsentrasi asam dan basa konjugasinya, semakin besar kapasitas penyangga. Kapasitas penyangga dapat didefinisikan secara kuantitatif dengan jumlah mol basa kuat dibutuhkan untuk mengubah pH 1 L larutan sebesar 1 pH satuan (Vogel. 1979). Asam dan basa yang digunakan dalam praktikum kali ini merupakanasam dan basa kuat, namun dengan konsentrasi yang rendah sehingga untuk mengubah satu satuan pH buffer perlu sekitar 30ml asam maupun basa kuat yang digunakan.
Pencernaan adalah proses pemecahan partikel makro menjadi partikel yang ukurannya lebih kecil lagi dan diikuti dengan proses fermentasi dan penyerapan baik dalam rumen maupun usus. Proses pencernaan pada ternak ruminansia dapat terjadi secara mekanis dalam mulut, fermentatif oleh mikroba rumen, dan secara hidrolitis oleh enzim-enzim pencernaan hewan induk semang. Rumen merupakan bagian terbesar dari perut ruminansia. Di dalam rumen terdapat sejumlah mikroba yang memungkinkan ternak memanfaatkan komponen-komponen yang tidak dapat dicerna oleh enzim perut dan disebut dengan fermentasi. Fermentasi oleh mikroba rumen misalnya hidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida dan disakarida kemudian di fermentasi menjadi asam asetat, propionate dan butirat. Sedangkan protein sebagian besar dirombak menjadi peptide, asam amino, ammonia, dan VFA yang selanjutnya disintesis menjadi sel mikroba untuk kemudian dicerna dalam usus. Lemak akan dihirolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Proses fermantasi dalam rumen menghasilkan kondisi asam, hal ini dapat menghambat kinerja dari mikroba rumen yang tidak tahan terhadap kondisi yang terlalu asam. Karena itu perlu adanya sistem buffer dalam rumen yang berungsi menjaga atau mempertahankan pH dalam rumen. Saliva yang dihasilkan dalam mulut ruminan selain bersifat enzimatis juga berperan sebagai buffer dalam rumen. Saliva yang masuk ke dalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan pH tetap pada 6,8. Saliva bertipe cair, membuffer asam-asam hasil fermentasi mikroba rumen. Selain itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu di dalam proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung eloktrolit-elektrolit tertentu seperti Na, K, Ca, Mg, P, dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi mikroba. Sekresi saliva dipengaruhi oleh bentuk fisik pakan, kandungan bahan kering, volume cairan isi perut dan stimulasi psikologis.
Kurva perbandingan titrasi cairan rumen dengan NaOH dengan buffer fosfat dengan NaOH, menunjukan bahwa kecepatan perubahan pH yang berbeda setelah penambahan NaOH. Buffer fosfat dapat mencapai(mendekati) pH NaOH hanya dengan penambahan 50ml NaOH 0,05N, sedangkan pada cairan rumen memerlukan 120ml NaOH 0,05N hingga mencapai pH 11. Kurva perbandingan titrasi cairan rumen dengan HCl dengan titrasi bufffer fosfat dengan HCl juga menunjukan perbedaan kecepatan dalam penambahan HCl setiap 10ml. Penambahan HCl sangat cepat berpengaruh pada buffer fosfat dimana hanya dengan menambahkan 60ml HCl 0,05N pH-nya sudah berubah menjadi 2, sedangkan pada cairan rumen memerlukan HCl sedanyak 190ml untuk membuat pH cairan rumen menjadi 2. Kurva titrasi NaOH dengan HCl menunjukan bahwa perlu 70ml HCl 0.05N untuk merubah pH NaOH 0,05N yang memiliki pH 12 menjadi pH 2 dengan adanya titrasi.
Kemampuan buffer fosfat dalam perlakuan titrasi dengan HCl dan NaOH dibandingkan dengan cairan rumen sangat terlihat berbeda. Buffer fosfat lebih cepat mengalami perubahan pH dibandingkan cairan rumen, atau bisa dikatakan bahwa cairan rumen lebih dapat mempertahankan pH-nya dibandingkan dengan buffer fosfat. Hal ini menunjukan bahwa dalam tubuh ternak yang terdapat cairan rumen dalam rumennya, dapat dengan maksimal mempertahankan pH normal rumen (6,8) meskipun didalamnya terdapat aktivitas fermentasi





















BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
            Larutan penyangga atau larutan buffer merupakan suatu larutan yang dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari larutan penyangga ini adalah:
  • pH larutan penyangga hanya berubah sedikit pada penambahan sedikit asam kuat ataupun basa kuat.
  • Larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa lemah dengan asam konjugatnya.
Pada praktikum Larutan Penyangga ini yang merupakan larutan penyaangga adalah:
  • NH4OH + NH4Cl
  • HCH3COO + NaCH3COO

6.2 Saran
            Dalam menentukan pH larutan buffer ini, sebaiknya praktikan berhati-hati dalam mengukur volume sebuah larutan. Dan larutan tidak boleh tercampur dengan larutan yang lain, karena dapat mempengaruhi nilai pH.







BAB VII
JAWABAN PERTANYAAN
1.      Jika ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat ion OH-. Hal tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan, sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Disamping itu penambahan ini menyebabkan berkurangnya komponen basa (NH3), bukannya ion OH-. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan basa NH3 membentuk ion NH4+.
NH3 (aq) + H (aq) → NH4 (aq)

2.       larutan penyangga dari asam lemah dan basa konjugasinya adalah larutan yang dibuat dengan mencampurkan larutan asam asetat (CH3COOH) dengan larutan garam Natrium asetat (CH3COONa).
Campuran larutan tersebut terionisasi sebagai berikut.
CH3COOH(aq) H+(aq) + CH3COO-(aq)
CH3COONa(aq) Na+(aq) + CH3COO-(aq)
Karena CH3COOH merupakan asam lemah, maka dalam larutannya zat ini akan terionisasi secara tidak sempurna yang reaksinya dapat membentuk sistem kesetimbangan. Sementara itu, CH3COONa merupakan garam, sehingga dalam larutannya zat ini akan terurai atau terionisasi secara sempurna. Berdasarkan uraian di atas, maka dalam sistem campuran CH3COOH dan CH3COONa terdapat spesi-spesi zat yaitu CH3COOH yang tidak terurai (karena asam lemah); ion CH3COO- (hasil ionisasi CH3COOH dan CH3COONa); ion hidrogen (H+) yang dihasilkan dari ionisasi CH3COOH; dan ion natrium (Na+) yang dihasilkan dari ionisasi CH3COONa. Dalam hal ini, CH3COO- merupakan basa konjugasi dari asam lemah, CH3COOH. Oleh karena itu, larutan penyangga semacam ini sering disebut larutan penyangga dari asam lemah dengan basa konjugasinya atau campuran asam lemah dengan garamnya.

3        Kapasitas buffer merupakan suatu ukuran kemampuan buffer untuk mempertahankan pHnya yang konstan apabila ditambahkan asam kuat atau basa kuat. Kapasitas buffer bergantung pada jumlah asam-garam atau basa-garam yang terkandung di dalamnya. Apabila jumlahnya besar, pergeseran kesetimbangan ke kanan maupun ke kiri dapat berlangsung banyak untuk  mengimbangi asam kuat atau basa kuat yang ditambahkan.
Contoh:
 CH3COONa CH3COO- + Na+ (Garam)
CH3COOH CH3COO- + H+ (Asam lemah)






















DAFTAR PUSTAKA

Arora,S.P.1989.Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia.Yogyakarta:Gadjah
             Mada University Press.
Daintith,J.2008.Kamus Lengkap Kimia.Jakarta:Erlangga
Hvelplund,T.1991.Volatile Fatty Acids and Protein Production in The Rumen.In Vogel`s.1979.Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis
              Fifth Edition.New York:Longman Grou

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar