Sabtu, 05 November 2016

laporan kimia anorganik tentang Stoikiometri



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    LatarBelakang

Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoiceon (unsur) dan metrein (mengukur). Stoikiometri berarti mengukur unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel atom ion, molekul yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat dalam reaksi kimia.Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) yang didasarkan pada hukum-hukum dasar dan persamaan reaksi.
Pelajaran yang berkaitan dengan reaksi kimia lazim dikenal sebagai “stokiometri”. Stokiometri adalah bagian ilmu kimia yang mempelajar hubungan kunatitatif antara zat yang berkaitan dalam reaksi kimia. Bila senyawa dicampur untuk bereaksi maka sering tercampur secara kuantitatif stokiometri, artinya semua reaktan habis pada saat yang sama. Namun demikian terdapat suatu reaksi dimana salah satu reaktan habis, sedangkan yang lain masih tersisa. Reaktan yang habis disebut pereaksi pembatas. Dalam setiap persoalan stokiometri, perlu untuk menentukan reaktan yang mana yang terbatas untuk mengetahui jumlah produk yang dihasilkan.
Oleh karena itu percobaan stiokiometri ini dilakukan, diharapkan kita mengerti tentang pereaksi pembatas dan pereaksi sisa.

1.2    TujuanPercobaan

1.    Mempelajari Prinsip stoikhiometri setiap perhitungannya
2.    Menentukan perbandingan stoikhiometri setiap zat dalam persamaan reaksi.
3.    Menentukan pereaksi pembatas
4.    Menentukan koefisien reaksi dengan cepat dan benar




BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani yaitu stoiceon (unsur) dan metrein (mengukur). Stoikiometri berarti mengukur unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel atom ion, molekul yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat dalam reaksi kimia. Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) yang didasarkan pada hukum-hukum dasar dan persamaan reaksi (Ahmad,1985).
Stoikiometri beberapa reaksi dapat dipelajari dengan mudah, salah satunya dengan metode JOB atau metode Variasi Kontinu, yang mekanismenya yaitu dengan dilakukan pengamatan terhadap kuantitas molar pereaksi yang berubah-ubah, namun molar totalnya sama. Sifat fisika tertentunya (massa, volume, suhu, daya serap) diperiksa, dan perubahannya digunakan untuk meramal stoikiometri sistem. Dari grafik aluran sifat fisik terhadap kuantitas pereaksi, akan diperoleh titik maksimal atau minimal yang sesuai titik stoikiometri sistem, yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyaw  (Muhrudin, 2011).
Stoikiometri reaksi adalah penentuan perbandingan massa unsur-unsur dalam senyawa dalam pembentukan senyawanya. Pada perhitungan kimia secara stoikiometri, biasanya diperlukan hukum-hukum dasar ilmu kimia (Brady,1986).
Ilmu kimia adalah ilmu yang berlandaskan eksperimen, dimulai dari pengamatan, kemudian diperoleh data yang selanjutnya didapatkan keteraturan. Keteraturan yang diperoleh secara eksperimen disebu thukum. Didalam ilmu kimia telah ditemukan beberapa hukum dasar atau hukum-hukum pokok ilmu kimia.
Adapun hukum-hukum dasar itu adalah :
1.        Hukum Kekekalan Massa (= hokum Lavoiser)
Hukum Lavoiser ini adalah hasil dukungan banyak percobaan yang dirintis olehnya, dengan menimbang senyawa-senyawa sebelum dan sesudah terjadinya reaksi kimia. Hasil penyelidikannya inilah yang menyatakan bahwa pada reaksi-reaksi kimia dalam kondisi-kondisi biasa tidak terjadi perubahan massa. Hal ini berarti bahwa “dalam suatu reaksi kimia jumlah massa zat sebelum dan sesudah adalah sama.”
2.        Hukum Perbandingan Tetap (= hukum Proust)
“Perbandingan massa unsur-unsur yang membentuk suatu senyawa adalah tetap.”
3.        Hukum Kelipatan Perbandingan (= hokum Dalton)
“ Dua unsur yang berbeda membentuk lebih dari satu senyawa, massa unsur kesatu yang bersenyawa dengan unsur kedua yang massanya sama berbanding sebagai bilangan yang kecil dan bulat.”
4.        Hukum Perbandingan Volume (= hokum Gay Lussac)
“ Volume gas-gas yang  bereaksi dan volume gas hasil-hasil reaksiitu, bila diukur pada suhu ( T ) dan tekanan ( P ) yang sama berbanding lurus sebagai bilangan-bilangan bulat dan sederhana.”
5.        Hukum Avogadro
“ Pada suhu dan tekanan yang sama gas yang volumenya sama mengandung molekul yang sama banyaknya”
6.        Hukum Boyle
“Boyle menemukan bahwa udara dapat dimanfaatkan dan dapat berkembang bila dipanaskan. Akhirya ia menemukan hukum yang kemudian terkenal sebagai hukum Boyle:” bila suhu tetap, volume gas dalam ruangan tertutup berbanding terbalik dengan tekananya.”

P1.V1=P2.V2
7.        Hukum Boyle-Lussac
“Bagi suatu kuantitasdarisuatu gas ideal (yaknikuantitasmenurutberatnya) hasil kali dari
Volume dan tekanannya dibagi dengan temperature mutlaknya adalah konstan".
Untuk n1 = n2, maka P1.V1 / T1 = P2.V2 / T2
8.        Hukum Gas Ideal
Boyle membuat pompa vakum menggunakan teknik tercangih yang ada waktu itu, dan ia Mengamati bahwa gas pada tekanan dibawah 1 atm akan mengembang. Setelah ia melakukan banyak percobaan, Boyle mengusulkan persamaan untuk menggambarkan hubungan antara volume V dan tekanan P gas. Hubungan ini disebut dengan hukum Boyle.

PV=k (ketetapan)

Tiga hukum Gas
Hukum Boyle              : V = a/P (pada T, n tetap)
Hukum Charles           : V = b.T (pada P, n tetap)
Hukum Avogadro       :V = c.n (pada T, P tetap)
Jadi, V sebanding dengan T dan n, dan berbanding terbalik pada P. Hubungan ini dapat digabungkan menjadi satu persamaan:
V = RTn/P
atau
PV = nRT
Keterangan:
V = Volume
P = Tekanan
n = mol
R = Konstanta (0,082)
T = Temperatur
9.        Hukum Perbandingan Timbal-Balik
“ Jika unsur A dan B masing – masing bereaksi dengan unsur C yang massanya sama membentuk AC dan BC, maka perbandingan massa A dan B dalam pembentuk AB adalah sama dengan perbandingan massa A dan massa B ketika membentuk AC dan BC atau kelipatan dari perbandingan ini.”
10.    Hukum Perbandingan Setara
“ Bila suatu unsur bergabung dengan unsur yang lain, maka perbandingan kedua unsure tersebut adalah sebagai perbandingan massa ekivalennya atau kelipatan sederhana darinya (Brady, 1986).



BAB III
METODOLOGI
3.1    AlatdanBahan
1.      KIO3                                       7.   Buret
2.      KI                                            8.   Erlenmeyer volume 50/100 mL
3.      HCL                                        9.   Pipet ukur 5 dan 10 mL
4.      Na2SO3                                               10. Kacaarloji
5.      Amilum                                   11. Botolsemprot
6.      Aquades                                  12. Corongkaca

3.2    ProsedurKerja
1.      Buret yang sudah bersih dibilas dengan larutan Na2SO3
2.      Buret yang sudah dibilas dipasang dengan statif dan diisi dengan larutan Na2SO3
3.      Selanjutnya menyediakan Erlenmeyer, kemudian dengan berurutan masukkan kedalam Erlenmeyer tersebut (dengan pipet volume) larutan:
-          3 ml larutan KIO3 0,006 M
-          5 ml KI 0,2 M
-          1 ml larutan HCL 1 M
-          1 ml indicator amilum
4.      Larutan (pada prosedur no 3) selanjutnya dititrasi dengan larutan Na2SO3 sampai terjadi perubahan warna.
5.      Mengamati perubahan warnanya, dan mencatat volume Na2SO3 yang terpakai.
6.      Prosedur no 3-5 sampai 3 kali.
7.      Mencatat volume Na2SO3 yang terpakai.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    HasilPengamatan
No
Zat
Volume
(ml)
Mol
mula-mula
Mol
bereaksi
Mol
hasil  reaksi
Mol sisa
reaksi
1
KIO3
3
0,02 mol
0,008 mol
0,024 mol
0,012 mol
2
KI 0,2 M
5
0,04 mol
0.04mol
0,048 mol
0 mol
3
HCL 1 M
1
1 mol
0,048 mol
0.024mol
0,952 mol
4
Na2S2O3 0,1 M
1.   3,2
2.   6,5
3.   5,9
Rata-rata 11,6




5
Amilum
1




6
I2



0,015 mol

7
NaI



0,018 mol

8
Na2S2O3



0,09 mol

Lengkapipersamaanreaksiberikut:
KIO3+  KI + HClI2  + KCl + H2O
I2  + Na2SO3 + NaI  +Na2S2O3

4.2 Hasil Perhitungan
Persamaan reaksi :
1. KIO3 + 5KI + 6HCL               3 I2 + 2KCL + 3H2O
Persamaan reaksi : KIO3+ 5KI + 6HCL                     3 I2 + 2KCL + 3H2O
Mol mula-mula   :        0,06/3                          0,2/5                            1/1
(M=mol/V)
          :       0,02                             0,04                             1
Koefisien reaksi  :       1                                  5                                  6
Mol yang
bereaksi:      1/5 x 0,04                    5/5 x 0,04                    6/5 x 0,04
0,008                           0,04                             0,048
Mol hasil reaksi     :     3/5x0,04                      6/5x0,04                      3/5x0,04
0,024                           0,048                           0,024
Mol sisa reaksi      :      0,02-0,008                   0,04-0,04                     1-0,048
0,012                           0                                  0,952

Persamaan reaksi :
2. I2 + 2Na2S2O3              2NaI + Na2S4O6

I2 + 2Na2SO3 + 2NaI + Na2S2O6                            2NaI + Na2S4O6

Mol mulamula :          0,024                           0,1/5,5
0,024                              0,018
Mol  bereaksi : ½ x 0,018
0,09                             0,018
Hasil reaksi :                2 X 0,018                      1 X 0,018
      2                                   2
0,018                             0,009
Mol Sisa :                    0,024 - 0,09                 0,18 – 0,18
0,015                                0


4.2    Pembahasan
Dari hasil yang kami amati,
-       Ketika Na2So4 dititrasidengan volume 7ml warnanyaberubahmenjadihijaukehitaman
-       Larutan yang samadengan volume 5ml warnanyamenjadikuningkehijauan
-       Larutan yang samajugadalam 4,5 ml warnaberubahmenjadibening.
Tentang penentuan titik akhir sudah disebutkan beberapa kemungkinannya. Bila digunakan alat sebagai indikator maka titik akhir titrasi dilihat karena adanya perubahan warna dan kekeruhan. Pada percobaan pertama saat mentitrasi larutan KIO,KI dan HCL dengan berubah menjadi warna hijau kehitaman. Dengan volume larutan 5 ml warna yang dihasilkan yaitu warna cokelat kehitaman dan berubah menjadi warna bening. Dengn volume larutan 4,5 ml warna yang  dihasilkan yaitu warna cokelat kehitaman dan berubah menjadi warna bening. Perubahan warna yang berbeda terjadi karena kesalahan titrasi analisis. Untuk titrasi yang baik, maka perubahan warna atau kekeruhan harus terjadi tepat.























BAB V
PENUTUP
5.1    Kesimpulan
1.        Stoikhiometri adalah hubungan antara massa atau berat dengan reaksi kimia.
2.        Perbandingan zat-zat dalam reaksi dihitung dengan satuan mol, tetapi bila perbandingan mol dari persamaan reaksi maka tidak seluruh zat yang akan habis bereaksi atau meninggalkan sisa.
3.        Untuk menentukan pereaksi pembatas ialah dengan membagi jumlah mol zat yang tersedia dengan koefisien masing-masing. Hasil yang paling kecil menyatakan bahwa zat tersebutlah pereaksi pembatas.
4.        Perbandingan koefisien reaksi adalah perbandingan jumlah mol zat-zat dalam reaksi tersebut

5.2         Saran
Dalam melakukan percobaan, praktikan harus teliti agar mendapat hasil yang tepat. Sebelum melakukan praktikum, praktikan harus menguasai materi yang berhubungan dengan praktikum agar saat melakukan praktikum, praktikan tidak kewalahan lagi, Dalam menggunakan alat dan bahan, praktikan juga harus berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan.













DAFTAR PUSTAKA
Brady, J.E dan Humiston. 1986. General Chemistry. New York: John Willey and
   Sons
Hiskia, Ahmad. 1985. Kimia Dasar (modul 1-5). Jakarta : UT
Muhrudin, Udin. 2011. Praktikum Stoikiometri Reaksi. http://chemistapolban.
               blogspot.com/ 2011/06/praktikum-stoikiometri-reaksi.html. Diakses
   tanggal 1 Desember 2015 pukul 20:00 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar