Rabu, 15 Juni 2016

Laporan Praktikum (Titrasi asam dan Basa)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

          Analisa volumetrik adalah suatu cara menentukan jumlah (kuantitatif) suatu zat. Analisa ini tergantung pada pengukuran volume yang tepat dari dua macam larutan yang bereaksi sempurna. Salah satu larutan yang harus diketahui kkonsenterasinya, larutan ini disebut larutan standar, sedangkan larutan yang lain akan ditentukan konsenterasinya oleh larutan standar. Proses penetuan konsenterasi ini disebut titrasi.
          Dalam proses titrasi suatu larutan ditambahkan sedikit demi sedikit pada larutan yang volumenya telah diketahui, sampai tercapai titik ekivalen, yaitu jumlah stoikhiometri (perbandingan mol) dari kedua pereaksi. Titk akhir titrasi/reaksi diketahui ketika indikator yang digunakan tepat mengalami perubahan warna.
       Ada empat macam reaksi yang digunakan dalam titrasi :
       1. reaksi asam-basa
       2. reaksi redoks
       3. reaksi pengendapan
       4. reaksi pembentukan kompleks
       Dalam titrasi, suatu larutan A dengan konsentrasi Ma beraksi dengan larutan B dengan konsentrasi Mb dengan persamaan reaksi :
       aA + bB → hasil reaksi
       a dan b = perbandingan mol zat yang bereaksi
       A dan B = zat yang bereaksi

1.2    Tujuan

       1.  Mahasiswa mampu menerapkan teknik titrasi untuk menganalisis contoh yang mengandung asam.
       2.  Mahasiswa mampu menstandarisasi larutan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Standarisasi dapat dilakukan dengan titrasi. Titrasi merupakan proses penentuan konsentrasi suatu larutan dengan mereaksikan larutan yang sudah ditentukan konsentrasinya (larutan standar). Titrasi asam basa adalah suatu titrasi dengan menggunakan reaksi asam basa (reaksi penetralan). Prosedur analisis pada titrasi asam basa ini adalah dengan titrasi volumemetri, yaitu mengukur volume dari suatu asam atau basa yang bereaksi (Syukri, 1999).
Pada saat terjadi perubahan warna indikator, titrasi dihentikan. Indikator berubah warna pada saat titik ekuivalen. Pasda titrasi asam basa, dikenal istilah titik ekuivalen dan titik akhir titrasi. Titik ekuivalen adalah titik pada proses titrasi ketika asam dan basa tepat habis bereaksi. Untuk mengetahui titik ekuivalen digunakan digunakan indikator. Saat perubahan warna terjadi, saat itu disebut titik akhir titrasi (Sukmariah, 1990).
Proses penentuan konsentrasi suatu larutan dipastikan dengan tepat dikenal sebagai standarisasi. Suatu larutan standar kadang-kadang dapat disiapkan dengan menggunakan suatu sampel zat terlarut yang diinginkan, yang ditimbang dengan tepat, dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Zat yang memadai dalam hal ini hanya sedikit, disebut standar primer (Day, 1998).
Istilah analisis titrametri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan zat yang akan ditetapkan. Larutan dengan kekuatan (konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut larutan standar. Bobot zat yang hendak ditetapkan, dihitung dari volume standar yang digunakan dan hukum-hukum stokiometri yang diketahui. Dahulu digunakan orang analisis volumetri, tetapi sekarang telah diganti dengan analisiss titrimetri, karena yang terakhir ini dianggap lebih baik menyatakan proses titrasi, sedangkan yang disebut terdahulu dapat dikacaukan dengan pengukuran-pengukuran volume, seperti yang melibatkan gas-gas. (Basset, 1994).
BAB III
METODOLOGI

3.1  Alat dan Bahan
       - NaOH 0,1 M
       - HCl 0,1 M
       - H2C2O4
       - Indikator penolphetalin
       - Erlenmeyer
       - Buret 50 ml
       - Statif dan klem
       - Gelas ukur 25 ml atau 10 ml
       - Corong kaca
        
3.2  Cara Kerja
3.2.1  Standarisasi larutan NaOH 0,1 M
            Cuci bersih buret yang akan digunakan untuk standarisasi dan bilas dengan 5 ml larutan NaOH. Putar kran buret untuk mengeluarkaan cairan yang tersisa dalam buret, selanjutnya isi buret dengan 5 ml NaOH untuk membasahi dinding buret. Kemudian larutan dikeluarkan lagi buret. Larutan NaOH dimasukkan lagi sampai skala tertentu. Catat volume awal NaOH dalam buret.
            Proses standarisasi:
·         Cuci 3 erlenmeyer, pipet 10 ml larutan asam oksalat 0,1 M dan masukkan kedalam
  setiap erlenmeyer dan tambahkan kedalam masing-masing erlenmeyer 3 tetes indikator penolphtalein (PP).
·         Alirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terbentuk
           warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas erlenmeyer digoyang.
·         Catat volume NaOH terpakai
·         Ulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer ke II dan III.
·         Hitung molaritas (M) NaOH.
3.2.2  Penentuan konsenterasi HCl
·         Cuci 3 erlenmeyer, pipet 10 ml larutan asam oksalat 0,1 M dan masukkan kedalam
setiap erlenmeyer dan tambahkan kedalam masing-masing erlenmeyer 3 tetes indikator penolphtalein (PP).
·         Tambahkan kedalam masing-masing erlenmeyer 3 tetes indikator penolphtalein (PP).
·         Alirkan larutan NaOH yang ada dalam buret sedikit demi sedikit sampai terbentuk
warna merah muda yang tidak hilang apabila gelas erlenmeyer digoyang.
·         Catat volume NaOH terpakai
·         Ulangi dengan cara yang sama untuk erlenmeyer ke II dan ke III
·         Hitung molaritas (M) HCl.


BAB IV
HASIL PENGAMATAN

Standarisasi NaOH dengan larutan asam oksalat
No
Prosedur
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
Volume larutan asam oksalat 0,1 M
10 ml
10 ml
10 ml
10 ml
2
Volume NaOH terpakai
21,5 ml
17 ml
24  ml
20,83ml
3
Molaritas (M) NaOH
1,3 M
1,64 M
1,16 M
1,36 M

Standarisasi NaOH dengan larutan HCl
No
Prosedur
Ulangan
Rata-rata
I
II
III
1
Volume larutan HCl
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
2
Volume NaOH terpakai
0,7 ml
0,6 ml
0,5 ml
0,6 ml
3
Molaritas (M) NaOH
Berdasarkan hasil percobaaan diatas
1,36 M
4
Molaritas (M) larutan HCl
25,71 M
30 M
36 M
30,57M


BAB V
PEMBAHASAN

Syarat-syarat larutan standar primer :
     1.    Harus tersedia dengan mudah dalam bentuk murni atau dalam keadaan kemurnian yang diketahui. Pada umunya total ketidakmurnian tidak melampaui 0,2%, dan harus mungkin memeriksa ketidakmurnian itu dengan percobaan kuantitatif yang kepekaannya diketahui.
     2.    Zat harus mudah di keringkan dan tidak boleh terlalu higroskopik sehingga menyerap air selama penimbangan. Tidak boleh kehilangan bobot bila dibiarkan diudara terbuka. Hidrat-hidrat garam biasanya tidak digunakan sebagai standar primer.
     3.    Mempunyai bobot ekivalen yang tinggi agra kesalahan dalam penimbangan dapat diminimalkan.
     4.    Lebih baik zat yang berasal dari asam dan basa kuat yang disosiasinya tinggi.
     5. Asam dan basa lemah dapat juga digunakan sebagai standar primer untuk menstandarisasi asam atau basa lemah yang lain.

Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan hasil titrasi antara NaOH dengan larutan asam oksalat dan NaOH dengan larutan HCl. Setiap larutan yang distandarisasi, baik itu larutan NaOH dengan larutan asam oksalat ataupun larutan NaOH dengan larutan HCl harus menambahkan larutan asam oksalat 0,1 m kedalam setiap larutan yang diuji. Setelah itu alirkan NaOH secara perlahan kedalam masing-masing erlenmeyer dan digoyangkan sampai warna kemerah-mudaan dan warnanya tidak berubah lagi kewarna semula atau permanen.


BAB VI
PENUTUP

6.1  Kesimpulan
1.  teknik mentitrasi untuk menganalisis contoh larutan asam adalah dengan mengetahui terlebih dahulu nama laruan dan berapa pH nya. jika pH nya 1-6 itu Asam, jika pHnya 7 maka larutan garam dan jika pH 8-14 itu larutan basa.
2.  menstandarisasi larutan yaitu dengan menggunakan indikator penolphtalein yang ditetesi kedalam larutan yang ingin distandarisasi dan alirkan larutan NaOH kedalam erlenmeyer dan digoyang erlenmeyernya sampai warna larutan merah muda.

6.2  Saran
Saran dari penulis sebagai praktikan, penulis belum merasa puas dalam pratikum ini karena faktor utamanya adalah kekurangan alat-alat laboratorium dan kepada co.ass agar lebih bijak lagi mendidik baik dalam pratikum maupun cara pembuatan laporan yang benar. Penulis akui bahwa dalam penulisan laporan, penulis masih mengalami banyak kekurangan dalam menyelesaikanny.









BAB VII
JAWABAN PERTANYAAN

1.    Amati larutan, jika larutan sudah mulai berwarna merah muda berarti larutan tersebut telah mendekati titik ekivalen.
3.    Tidak, karena indikator adalah sebagai media penetralisasi larutan dan untuk dapat menjadi standar, larutan yang ada dalam gelas di goyang-goyang sampai warnanya mulai kemerah mudaan.
6.    Tidak semua reaksi dapat diperguankan sebagai reaksi titrasi. Untuk itu harus
   dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut ;
     1.Reaksi harus berlangsung sempurna, tunggal dan menurut persamaan yang
         jelas.
2. Reaksi harus cepat dan reversible. Bila tidak cepat, titrasi akan memakan waktu terlalu banyak apalagi menjelang titik akhir reaksi. Bila reaksi tidak reversible, penentuan akhir titrasi tidak tegas.
     3. Harus ada penunjuk akhir reaksi (indikator).
4. Larutan baku yang dieraksikan denan analit harus mudah dibuat dan sederhana penanganannya serta harus stabil sehingga konsentrainya tidak mudah berubah.
DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. et al. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Kedokteran
 EGC, Jakarta.
Day, R. A. dan S. Keman. 1998. Kimia Analisa Kuantitatif. Erlangga, Jakarta.
Sukmariah. 1990. Kimia Kedokteran Edisi 2. Binarupa Aksara, Jakarta.
Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung, ITB.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar